The Technique of Directing the Sex of Betta Fish (Betta Sp.) Larval Stage (H3, H5, and H7) using Coconut Water (Cocos Nucifera)

Cucu Rohayati, Deny Sapto Chondro Utomo, Yudha Trinoegraha Adiputra

Abstract


Betta (Betta sp.) is an anabantidae fish with sexual development that can be directed at the embryonic and larval stages. One way to direct the sex development of these fish is by using hormone therapy using natural ingredients. Coconut water is one of the natural ingredients that can be used because it contains high potassium. This potassium can convert cholesterol in fish body tissue to pregnenolone which will affect the increase in testosterone production. This study aims to determine the best dose and age group in directing the sex of Betta fish experimentally using a randomized block design (RBD) with 4 treatments and 3 replications. The immersion treatment of larvae in the age group of 3 days, 5 days, and 7 days for 15 hours with a dose of 0%, 10%, 20%, and 30% coconut water was carried out in a 3 L jar containing 30 larvae. The results showed that coconut water was able to influence the increase in the percentage of male betta fish (P <0.05) with the highest value at a dose of 30% as much as 86.26 ± 8.34% and the 3 day larvae age group of 72.78 ± 16.03, and have a different effect on other treatments. In addition, the survival calculated after immersion shows a value of 100%, meaning that coconut water does not have a harmful effect on fish. Based on the results of this study, the best treatment for directing the sex of betta fish is a dose of 30% coconut water with the 3 day age group

Keywords


Betta sp; Larvae; coconut water; potassium; pregnenolone

Full Text:

PDF

References


Atmadjaja, J. (2009). Panduan lengkap memelihara Cupang Hias dan Cupang adu. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Awaludin., D. Maulianawati, dan M. Adriansyah, M. 2019. Potensi Ekstrak Etanol Seledri (Apium graveolens) untuk Maskulinisasi Ikan Cupang (Betta sp). Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, 3(2): 101-114.

Dwinanti, S.H., M. Hanggara, dan A. Putra. 2018. Pemanfaatan Air Kelapa (Cocos nucifera) untuk Maskulinisasi Ikan Guppy (Poicelia reticulata). Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 6(2) : 117-122.

Dwinanti, S.H., dan M. Yusuf. 2019. Maskulinisasi Ikan Cupang (Betta splendens) Menggunakan Air Kelapa (Cocos nucifera) melalui Metode Perendaman Embrio. Prosiding Seminar Nasional, 1(3) : 978-979.

Fariz, M.Z.A. 2014. Pengaruh Konsentrasi Tepung Testis Sapi terhadap Maskulinisasi Ikan Cupang (Betta splendens). Skripsi. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin.

Fauzan, M., Sugihartono, dan M.A. Yusuf. 2018. Perbedaan Waktu Pemeliharaan Telur dan Larva oleh Induk Jantan terhadap Daya Tetas dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Cupang. Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau, 3(3): 76-81.

Ferdian, A., Muslim, M. Fitrani. 2017. Maskulinisasi Ikan Cupang (Betta sp.) Menggunakan Ekstrak Akar Ginseng (Panax sp.). Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 5(1):1-12.

Gemilang, B.R.I., F. Basuki, dan T. Yuniarti. 2016. Pengaruh Lama Waktu Pemberian Tepung Testis Sapi Terhadap Keberhasilan Menghasilkan Jantan Ikan Cupang (Betta sp.) Journal of Aquaculture Management and Technology, 5(1):124-129.

Hikmawandri., P. Ningsih, dan Ratnam. 2019. Penentuan Kadar Kalium (K) pada Air Kelapa Hijau (Cocos viridis) di Daerah Dolo dan Labuan Menggunakan Sprektofotometri. Jurnal Akademia Kimia, 8(1): 34-37.

Lithner, D., J. Damberg, G. Dave, dan A. Larsson. 2009. Leachates from Plastic consumer Product-screening for Toxicity with Daphnia magna. Chemosphere. Journal of Fisheries Research,74(3) : 1195-1200.

Masprawidinatra, D., Helmizuryani, dan Elfachmi. 2015. Pengaruh Penggunaan Air Kelapa dengan Lama Perendaman yang Berbeda Terhadap Maskulinisasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Journal of Fisheries, 4(2): 13-16.

Phelps, R.P., dan T.J. Pompa. 2000. Sex Reversal of Tilapia Aquaculture in the Americas. Journal of The World Aquaculture Society, 2(2): 34-59.

Sari, A.N., dan D. Sustrami. 2018. Efektifitas Air Kelapa Hijau Muda terhadap Penurunan Tekanan Darah Tinggi pada Lansia di Posyandu Puskesmas Perak Timur Surabaya. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 11(2) : 11-22.

Sarida, M., Tarsim, dan E. Barades. (2010). Penggunaan Madu dalam Produksi Ikan Guppy (Poecillia reticulata). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur, 4(2) :831-836.

Satyani, D. 2003. Pengaruh Umur Induk Ikan Cupang (Betta splenden regan) dan jenis Pakan terhadap Fekunditas dan Produksi Larvanya. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 1(2) : 13-18.

Siregar, S., M. Syaifudin, dan M. Wijayanti. (2018). Maskulinisasi Ikan Cupang (Betta splendens) Menggunakan Madu Alami Melalui Metode Perendaman. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 6(2) : 141- 152

Superyadi. 2017. Penggunaan Air Kelapa (Cocos nucifera) dengan Konsentrasi Berbeda untuk Maskulinisasi Ikan Cupang(Bettasplendens). Skripsi. Palembang : Universitas Sriwijaya.

Yusuf, A., K. Yuniarti, dan M. Ade. (2015). Pengaruh Perbedaan Tingkat Pemberian Pakan Jentik Nyamuk terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Cupang. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 2(2) : 23-42.

Zairin, M. 2002. Sex Reversal : Memproduksi Benih Ikan Jantan atau Betina. Jakarta : Penebar Swadaya : 95 hlm.




DOI: http://dx.doi.org/10.31258/jpk.26.3.185-191

JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN
Gedung Marine Center Lt 2. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.